SEKILAS INFO
: - Monday, 16-05-2022
  • 1 tahun yang lalu / Kegiatan Ulangan Tengah Semester (UTS) akan segera dilaksanakan, Persiapkan diri, Belajar yang Rajin dan Jangan lupa penuhi kewajiban administrasi sekolah

PENEGAKAN DISIPLIN POSITIF MELALUI SEGITIGA RESTITUSI

(STUDI KASUS DI SMP AL-ISLAM KRIAN)

 

DYAH RAKHMAYANTI

SMP “AL-ISLAM” KRIAN

dyah@smpalislam-krian.sch.id

 

Pendidikan merupakan upaya pembinaan kepribadian dan kemajuan manusia baik jasmani maupun rohani. Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan telah mengembangkan desain pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Karakter dimaknai sebagai cara berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat memutuskan dan mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada TuhanYang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sekolah merupakan tempat terjadinya proses pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang diharapkan, manusia yang berkualitas. Sekolah juga bertugas membentuk kepribadian peserta didik agar mempunyai kepribadian yang luhur, mulia serta berdisiplin tinggi. Sekolah menjadi salah satu lembaga pendidikan formal yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi peserta didik. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, dijumpai peserta didik yang tidak disiplin dan menyimpang dari norma. Permasalahan-permasalahan tersebut tentu mengganggu proses belajar-mengajar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibentuklah suatu peraturan yang berfungsi untuk membentuk kedisiplinan yaitu tata tertib sekolah.

SMP “Al-Islam” Krian merupakan salah satu SMP swasta di kabupaten Sidoarjo yang memiliki 1.137 peserta didik pada tahun ajaran 2021/2022 ini, terdiri dari tiga rombongan belajar (Rombel), di mana kelas 7 sebanyak 12 rombel, kelas 8 sebanyak 14 rombel dan kelas 9 sebanyak 10 rombel. Jumlah peserta didik tersebut tergolong sangat besar di Kabupaten Sidoarjo. Tentunya, semakin banyak jumlah peserta didik yang berasal dari beragam latar belakang status sosial dan ekonomi akan memuncukan banyak permasalahan di permukaan, salah satunya permasalahan tentang disiplin. SMP “Al-islam” telah memiliki peraturan atau tata tertib sekolah yang mengatur kehidupan di sekolah. Dalam perjalanannya, banyak ditemui pelanggaran-pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yang dilakukan oleh peserta didik, misalnya datang terlambat ke sekolah sehingga tidak mengikuti kegiatan pendidikan Al Qur’an, tidak mengikuti pembelajaran, tidak tertib di kelas, mengganggu temannya saat pembelajaran, tidak memakai atribut sekolah, memakai sepatu tidak sesuai ketentuan sekolah, dan lain-lain.

Dalam rangka menegakkan disiplin di sekolah, kepala sekolah telah membentuk tim tata tertib (tim tatib) yang tugasnya adalah menyambut kehadiran peserta didik di pagi hari, mengecek seragam peserta didik dan kelengkapan atribut sekolah, mendata peserta didik yang terlambat masuk sekolah dan memberikan perlakuan terhadap mereka. Dalam praktik penegakan disiplin di sekolah, tim tatib menempatkan posisinya sebagai penghukum dan pembuat orang merasa bersalah. Ketika di gerbang sekolah, tim tatib menjumpai peserta didik yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah maka tim tatib langsung memberikan hukuman kepada peserta didik.

Beberapa pelanggaran yang sering terjadi di SMP “Al-Islam” Krian beserta penangannya dan hasilnya dapat dijelaskan berikut ini: 1) terlambat masuk sekolah, Kegiatan pendidikan Al Quran dimulai pukul 06.45 dan toleransinya adalah 10 menit. Jika peserta didik datang di sekolah melebihi toleransi maka peserta didik diberi sanksi lari mengelilingi lapangan atau memunguti sampah yang ditemuinya di area lapangan atau berdiri sambil hormat pada bendera merah putih di lapangan. Hasil penanganan tersebut ternyata tidak mengubah perilaku disiplin peserta didik menjadi lebih baik, hal ini dibuktikan mereka mssih mengulangi hal yang sama di hari berikutnya, 2) jika peserta didik putra memakai celana pensil maka hukumannya adalah melepas celananya dan memakai sarung yang telah disediakan oleh tim tatib. Hasilnya, mereka justru merasa senang memakai sarung dan dijadikan sendau gurauan ke teman-temannya, dan 3) jika peserta didik tidak memakai atribut sekolah maka kancing bajunya akan dilepasi dengan silet/cutter.  Hasilnya peserta didik merasa marah bahkan orang tuanya juga tidak terima jika putra/putrinya dilepasi kancing bajunya.

Sebenarnya, masih banyak pelanggaran dan penanganan yang dilakukan di SMP “Al-Islam” Krian sebagai upaya penegakan disiplin, namun hasilnya masih belum menunjukkan keberhasilan. Ini merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi sekolah untuk membentuk karakter disiplin peserta didik agar kelak setelah mereka lulus, mereka menjadi orang yang sukses di manapun mereka berada. Karena menurut Thomas J. Stanley, Ph.D, di dalam bukunya “ Millionaire Mind” terdapat 10 faktor utama yang menentukan kesuksesan seseorang yaitu: 1) Kejujuran, 2) Disiplin, 3) Mudah Bergaul, 4) Dukungan pendamping, 5) Kerja keras, 6) Kecintaan pada yang dikerjakan, 7) Kepemimpinan, 8) Kepribadian Kompetitif, 9) Hidup Teratur, dan 10) Kemampuan menjual ide. Disiplin adalah faktor kedua yang sangat menentukan kesuksesan seseorang.

Oleh karena itu, untuk menegakkan disiplin, perlu adanya perubahan metode/cara pada 2 aspek, yaitu: 1) posisi guru dalam menghadapi peserta didik yang melakukan pelanggaran, dan 2) penanganan (treatment) bagi peserta didik yang melakukan pelanggaran. Di mana paradigma lama penegakan disiplin berbasis hukuman atau membuat orang merasa bersalah harus diubah menjadi penegakan disiplin positif. Disiplin positif merupakan pendekatan mendidik anak untuk melakukan kontrol diri dan pembentukan kepercayaan diri. Tujuan disiplin positif adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Salah satu penentu keberhasilan disiplin positif adalah peranan guru. Guru harus mampu menempatkan posisi kontrolnya pada posisi manajer dan pemantau dan harus mampu menawarkan restitusi kepada peserta didik yang melakukan pelanggaran keyakinan sekolah. Oleh karena itu seorang guru juga perlu belajar tentang konsep disiplin positif meliputi: motivasi diri, keyakinan sekolah, pemenuhan kebutuhan dasar, posisi kontrol, dan Restitusi.

Berdasarkan pengalaman belajar mengenai konsep disiplin positif, maka pada bulan januari 2022, metode penegakan disiplin positif mulai diujicobakan di SMP “Al-Islam” Krian. Ujicoba dimulai pada hari Senin tanggal 03 Januari 2022, dan pemantauan dilaksanakan selama  satu pekan. Adapun data peserta didik yang terlambat selama satu pekan tersebut, tercatat sebagai berikut:

 

Tabel 1 Daftar Peserta Didik yang Terlambat Hadir di Sekolah

No

Nama Peserta Didik

Kelas

Terlambat

03/01/2022

04/01/2022 05/01/2022 06/01/2022
1 Siswa 1 IX-A
2 Siswa 2 IX-A
3 Siswa 3 IX-B
4 Siswa 4 IX-B
5 Siswa 5 IX-B
6 Siswa 6 IX-B
7 Siswa 7 IX-C
8 Siswa 8 IX-D
9 Siswa 9 IX-D
10 Siswa 10 IX-D
11 Siswa 11 IX-D
12 Siswa 12 IX-F
13 Siswa 13 IX-F
14 Siswa 14 IX-F
15 Siswa 15 IX-E
16 Siswa 16 IX-G
17 Siswa 17 IX-G
18 Siswa 18 IX-G
19 Siswa 19 IX-H
20 Siswa 20 IX-H
21 Siswa 21 IX-H
22 Siswa 22 IX-H
23 Siswa 23 IX-J
24 Siswa 24 IX-J
25 Siswa 25 IX-J
26 Siswa 26 IX-J
27 Siswa 27 IX-H
28 Siswa 28 IX-G
Jumlah 26 6 1 0

Sumber: Jurnal Tim Tata Tertib SMP “Al-Islam” Krian

Berdasarkan tabel di atas, maka bisa dilihat jumlah peserta didik yang terlambat pada hari pertama berjumlah 26 peserta didik, yang seluruhnya berjenis kelamin laki-laki.  Dalam menghadapi peserta didik tersebut, yang dilakukan guru adalah menempatkan posisinya sebagai manajer dan pemantau, di mana langkah yang dilakukan posisi manajer adalah melakukan segitiga Restitusi sebagai berikut: 1) menstabilkan identitas, guru mengajak peserta didik berdiri santai, mengajak dialog terbuka. Guru mengatakan bahwa setiap manusia itu pasti pernah berbuat salah, dan hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Ketika manusia berbuat salah satu kali maka itu bisa dianggap sebagai bentuk kewajaran. Terlambat satu kali, wajar. Namun jika terlambatnya berkali-kali maka orang tersebut perlu introspeksi diri, mengapa dia berbuat kesalahan yang sama berkali-kali, berarti ada yang salah dengan konsep dirinya, 2) memvalidasi kesalahan, guru memastikan kepada peserta didik apakah mereka menyadari bahwa mereka telah berbuat salah. Peserta didik menjawab bahwa mereka sadar apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Mereka telah melanggar tata tertib/keyakinan sekolah, seharusnya mereka tiba di sekolah pukul 06.45, namun ternyata mereka tiba di sekolah di atas waktu yang telah ditentukan. Kemudian guru menanyakan kepada peserta didik satu per satu mengapa mereka datang terlambat ke sekolah. Jawaban mereka hampir semuanya sama yaitu karena mereka asyik bermain game, sehingga tidurnya kemalaman. Mereka menyadari bahwa mereka lalai dengan waktu jika sudah asyik bermain game di smartphone, sehingga mereka mulai tidur di atas pukul 22.00, bahkan ada beberapa peserta didik yang mengakui baru tidur pukul 01.00. Tentu saja hal ini mengakibatkan bangun paginya kesiangan yaitu sekitar pukul 06.30, belum ditambah waktu persiapan diri dan perjalanan ke sekolah. Bahkan ada salah seorang peserta didik yang mengaku berangkat sekolah tanpa mandi, hanya mencuci muka dan sikat gigi saja karena waktunya sudah siang dan jarak sekolah dari rumah cukup jauh. dan 3) menanyakan keyakinan, setelah mendapatkan kepastian dari peserta didik bahwa mereka sadar telah melakukan kesalahan, maka guru menanyakan keyakinan sekolah atau tata tertib yang telah diyakini peserta didik selama ini yaitu “ mari hadir di sekolah tepat waktu, pukul 06.45 pembelajaran dimulai ”. Hampir semuanya mengingat keyakinan sekolah tersebut dan menyadari telah melanggarnya. Kemudian Guru memberikan penguatan tentang manfaat disiplin di rumah, sekolah dan masyarakat khususnya di dunia kerja. Penanaman disiplin diri sejak usia dini akan membantu pembentukan karakter positif di kemudian hari agar mereka siap terjun ke masyarakat dan dunia kerja.

Guru kemudian menanyakan kepada peserta didik, apa yang mereka tawarkan sebagai solusi atas kesalahan yang telah mereka perbuat pada hari tersebut. Beberapa orang di antara peserta didik tersebut menawarkan lari mengelilingi lapangan. Hal ini menandakan selama ini hukuman fisik dianggap solusi terbaik untuk menebus kesalahan. Guru kemudian memberi pemahaman kepada peserta didik bahwa guru tidak akan menentukan secara sepihak hukuman bagi mereka, apalagi memberikan hukuman fisik. Konsekuensi disilakan ditentukan oleh peserta didik sendiri sebagai upaya membangun keyakinan yang benar pada dirinya. Kemudian salah seorang peserta didik mengakui kesalahannya dan minta diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Dia berjanji akan mengontrol dirinya dalam bermain game. Dia berjanji tidak akan terlambat lagi ke sekolah. Penawarannya tersebut diiyakan oleh teman-temannya yang lain. Akhirnya, guru menyepakati restitusi tersebut dan akan memantau pada hari-hari berikutnya.

Pada hari kedua, hasil pendataan tim tatib menunjukkan jumlah peserta didik yang terlambat adalah enam (6) orang yaitu empat orang adalah peserta didik yang  terlambat pada hari pertama dan dua orang peserta didik baru. Penanganan peserta didik yang terlambat tersebut hampir sama dengan penanganan di hari pertama, yaitu menerapkan Metode Segitiga Restitusi. Bagi keempat peserta didik yang terlambat di hari pertama dan kedua, mereka menawarkan restitusi kesempatan kedua, mereka meyakinkan diri bahwa bisa berubah lebih baik esok harinya, jika esok harinya masih terlambat lagi maka mereka bersedia panggilan orang tua agar bisa dicari solusinya dengan melibatkan orang tua dalam penegakan disiplin positif. Sedangkan dua peserta didik yang terlambat pada hari kedua memiliki alasan sebagai berikut: 1) Siswa 27, dia mengaku keasyikan bermain game sehingga berangkat tidur pukul 03.00 dinihari dan bangun tidur pukul 06.30, ditambah rumahnya di daerah Trosobo, cukup jauh dari sekolah sehingga sampai di sekolah pukul 07.30, dan 2) Siswa 28, dia mengaku berangkat sekolah pukul 06.00 sesuai biasanya, setibanya di perempatan Legundi motornya ditilang polisi karena tidak memasang spion kanan kiri. Sepedanya disita oleh polisi sehingga dia harus berjalan balik ke rumah untuk mengambil sepeda motor baru dan kemudian melanjutkan  berangkat sekolah. Sampai di perempatan Krian dan perempatan Rel Kereta Api Krian mengalami kemacetan. Akibatnya sampai di sekolah pukul 07.15.

Guru memberikan pemahaman tentang disiplin dan fenomena kemacetan kepada peserta didik. Bahwa kemacetan adalah salah satu fenomena yang sudah menjadi kebiasaan di Indonesia. Maka peserta didik tidak bisa menjadikan kemacetan sebagai alasan keterlambatan, karena hal tersebut pasti terjadi. Maka yang harus diubah adalah pola pikir manusia itu sendiri, bagaimana strateginya agar tidak menghadapi kemacetan dan tiba di sekolah sebelum bel masuk berbunyi, tentunya berangkat lebih awal. Kemudian, guru menawarkan restitusi sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi. Dan keduanya menawarkan diberi kesempatan pertama dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Guru menyetujui hal tersebut dengan pertimbangan bahwa ini adalah keterlambatan yang pertama bagi mereka.Dan guru akan memantau perkembangannya.

Pada hari ketiga, dari data tim tata tertib sekolah maka tercatat hanya satu anak yang mengalami keterlambatan yaitu siswa 27. Pada pertemuan ketiga tersebut, dia menyampaikan jika tadi malam dia sudah berangkat tidur pukul 24.00. Namun ternyata bangunnya tetap kesiangan. Sebagai restitusinya, dia meminta kesempatan kedua, jika esok harinya dia tetap terlambat maka dia bersedia panggilan orang tua atau visitasi ke orang tua untuk bersama-sama mencari penyelesaian atas perilaku anaknya tersebut. Guru menyetujui restitusi yang ditawarkan peserta didik, menyampaikan akan memantau perkembangan peserta didik di hari-hari berikutnya, serta memberikan motivasi kepada peserta didik tersebut.

Pada hari keempat, kelima dan keenam, tim tatib memberikan data yang cukup menggembirakan bahwa pada hari tersebut tidak ada peserta didik yang datang terlambat. Hal ini membuktikan bahwa upaya penegakan disiplin positif melalui segitiga Restitusi telah membuahkan hasil. Meski tanpa hukuman, peserta didik bisa mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Meskipun siswa 27 mengalami sedikit perubahan perilaku tidurnya dari awalnya pukul 03.00 berubah menjadi pukul 24.00, perubahan kecil itu tetap dihargai oleh guru. Hal ini seperti yang dipaparkan oleh Barakat dan Clark (1998) bahwa bimbingan dan disiplin yang efektif berfokus pada perkembangan anak dan menjaga harga diri serta martabat anak. Tindakan yang menghina atau meremehkan anak cenderung menyebabkan anak memandang orang tua dan pengasuh lainnya secara negatif, yang dapat menghambat belajar dan mengajarkan anak untuk bersikap tidak baik kepada orang lain. Namun, tindakan yang mengakui upaya dan kemajuan anak, tidak peduli seberapa lambat atau kecil, kemungkinan besar akan mendorong perkembangan yang sehat.

Bagaimanapun, pendidikan adalah upaya menuntun peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya. Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh motivasi diri dari peserta didik, namun juga ditentukan oleh peran guru sebagai garda depan pendidikan. Guru sepatutnya menuntun dan menghamba pada anak dengan penuh kasih sayang serta memberikan treatment/penanganan yang benar kepada anak agar anak melihat kebenaran yang sesungguhnya dan belajar dari kesalahan yang harus dia hindari di masa-masa yang akan datang. Selain peranan guru, tentunya upaya penegakan disiplin positif ini membutuhkan komitmen dan konsistensi yang kuat dari seluruh stakeholder sekolah baik pimpinan sekolah, tim tatib, guru BK, orang tua, dan peserta didik. Mengajarkan disiplin diri adalah tugas yang membutuhkan kesabaran, perhatian penuh, kerjasama, dan pemahaman yang baik tentang anak. Hal ini juga membutuhkan pengetahuan tentang kekuatan diri dan perjuangan dengan masalah disiplin. Sayangnya, satu-satunya persiapan bagi kebanyakan orang tua adalah pengalaman mereka sendiri sebagai orang tua. Pengalaman masa lalu seperti itu mungkin tidak selalu membantu dalam membesarkan anak-anak pada masa kini (Barakat dan Clark, 1998). Oleh karena itu, Budaya dialog terbuka dan membangun komunikasi yang positif antar warga sekolah sangat dibutuhkan dalam penegakan disiplin positif di sekolah karena dari komunikasi yang positif manusia akan belajar arti sebuah penghargaan dan kepercayaan antar sesama dan membangun kepercayaan diri baik bagi peserta didik, kelompoknya maupun bagi guru itu sendiri.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

PELATIHAN TIM MITRA HUMAS

Pengumuman BARU

May 2022
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031