SEKILAS INFO
: - Monday, 16-05-2022
  • 1 tahun yang lalu / Kegiatan Ulangan Tengah Semester (UTS) akan segera dilaksanakan, Persiapkan diri, Belajar yang Rajin dan Jangan lupa penuhi kewajiban administrasi sekolah

KARTINI-AN … BUKAN SEKEDAR BAJU KARTINI

Oleh Dyah Rakhmayanti, ST., M.Pd

 

Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan penuh antusiasme ikut merayakan hari Kartini. Berbagai instansi pendidikan, instansi pemerintah, perbankan, dan lain-lain ikut andil memeriahkan Hari Kartini dengan memakai busana adat Jawa atau juga dikenal dengan istilah “Baju Kartini”, karena memang Raden Ajeng Kartini adalah seorang Tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Pulau Jawa tepatnya di Kota Jepara propinsi Jawa Tengah. Perayaan hari Kartini pun sangat beragam, di tingkat sekolah biasanya diadakan lomba membaca atau mencipta puisi dengan tema Kartini dan membuat karya tulis dengan tema Kartini, di perkantoran dirayakan dengan menggelar acara fashion show atau busana adat jawa terbaik, di perkampungan biasanya diadakan lomba memasak, lomba senam dengan memakai busana adat jawa, bahkan yang paling ekstrem adalah pertandingan sepak bola memakai busana adat Jawa. Perayaan ini bertujuan untuk mengingat Hari Kartini, sang Pahlawan Nasional yang telah berjasa memperjuangkan emansipasi wanita melalui pemikiran-pemikiran beliau yang menentang prinsip Patriarki khususnya di Kota Jepara. Terlepas dari apakah para wanita atau para ibu yang ikut merayakan hari Kartini tersebut paham tentang pemikiran-pemikiran Kartini dan berusaha memaknai pemikiran-pemikiran Kartini dalam kehidupannya sehari-hari atau sekedar having fun saja. The core is just for celebration.

Seorang Raden Ayu Kartini meninggalkan sejarah yang cukup berarti bagi bangsa Indonesia khususnya kaum wanita Indonesia. Melalui pemikiran antimainstream Raden Ajeng Kartini di kala belia yaitu menuntut kesetaraan hak antara kaum perempuan dan laki-laki pribumi dalam segala aspek kehidupan (emansipasi) khususnya pendidikan, mampu membuat pemerintah kolonial Belanda ketar-ketir dengan sepak terjangnya. Semangatnya yang tinggi untuk memajukan perempuan pribumi, membuat Kartini tidak berhenti belajar meskipun dalam pingitan. Kegemarannya membaca, menulis surat (korespondensi), puisi dan artikel memberikan ruang gerak yang lebih bebas bagi dirinya untuk menuangkan pemikiran-pemikirannya tentang memajukan perempuan pribumi. Selama 12 tahun (1891 – 1903) Raden Ajeng Kartini menuliskan pemikirannya melalui surat dan puisi kepada para sahabatnya di negeri Belanda dan artikel di koran lokal hingga negeri Belanda. Dia tak segan meminta dukungan dan mengajak diskusi para sahabatnya di negeri Belanda untuk mengupayakan pendidikan bagi kaum perempuan pribumi. Hingga akhirnya, semangat yang menyala-nyala selama 12 tahun tersebut makin meredup karena di tahun 1903, orang tuanya menghendaki Kartini menikah dengan Adipati Rembang yang telah memiliki tiga orang istri. Meskipun, suaminya sangat mendukung pemikiran Kartini, namun setelah menikah Kartini perlahan mulai menanggalkan egonya dan lebih mengarahkan tujuan hidupnya agar bisa hidup secara bermakna. Sampai pada tahun 1904, tepat di usianya 25 tahun setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Ayu Kartini tutup usia. Seorang pahlawan tidak hanya hadir dalam peperangan. Mereka adalah sosok yang selalu hadir membawa kebaikan bagi sekitarnya

Sejarah Kartini tersebut tentunya memberikan banyak pelajaran bagi kita kaum perempuan pribumi, yang bisa dijadikan panutan, inspirasi dan bahkan ditindaklanjuti upayanya untuk membawa kaum perempuan pribumi semakin cerdas, berkarakter, dan tangguh. Pertama, Kartini mengajarkan kepada kita bahwa menjadi perempuan pribumi harus memiliki sensitivitas (kepekaan) yang tinggi terhadap kondisi sosial kemasyarakatan. Apalagi di tengah kondisi pandemi Covid-19 dua tahun belakangan ini, segala aspek kehidupan mendapatkan imbasnya. Tentunya sikap peka terhadap lingkungan ini menuntut perubahan pola pikir (mindset) kita sebagai perempuan menjadi lebih toleran/tenggang rasa kepada sesama khususnya sesama kaum perempuan. Menghindari gaya hidup hedon (bermewah-mewahan) seperti membeli barang-barang fashion yang branded dan mahal (baju, tas, dan perhiasan) kemudian memampangnya di media sosial seperti Instagram, perlu kita hindari untuk menipiskan kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. Justru kegiatan yang memiliki positive vibes untuk mendukung kaum perempuan yang kurang beruntung kehidupannya perlu dihidupkan agar mereka tetap memiliki motivasi hidup dan dapat menyelesaikan permasalahan hidupnya secara tangguh. Tagline #Womansupportingwoman adalah salah satu jargon yang sering kita jumpai di media sosial sebagai bentuk dukungan kita terhadap sesama kaum perempuan, untuk menyemangati perjuangan mereka, apapun bentuk perjuangannya. Namun ketika Allah SWT memberikan sebagian kaum perempuan rejeki yang berlebih dari sebagian yang lain, upaya konkret untuk menciptakan aktivitas yang mampu memberdayakan kaum perempuan, sangat relevan untuk dilakukan di masa-masa sulit ini, agar mereka dan keluarganya mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya. Bersabarlah, segala sesuatu itu awalnya sulit sebelum menjadi mudah.

Kedua, Kartini mengajarkan kepada kita, kaum perempuan, untuk tetap semangat belajar apapun keadaannya dengan memanfaatkan potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Menikah sesungguhnya bukan menjadi hambatan atau keterbatasan dalam belajar. Seorang perempuan yang sudah menikah bisa belajar di manapun dan kapanpun, apalagi di jaman modern Revolusi Industri 4.0 ini, belajar tidak dibatasi oleh dinding dan waktu, borderless. Belajar dari rumah maupun belajar di lembaga pendidikan formal, keduanya sama-sama bisa dijadikan pilihan oleh perempuan dengan segala status: gadis, wanita karier, wanita bersuami, wanita single, dan lain-lain. Selain itu yang perlu digarisbawahi adalah istilah wanita bekerja tidak selalu digunakan untuk menunjukkan wanita yang bekerja di luar rumah. Wanita yang bekerja dari rumah pun seperti mengelola online shop, mengelola home industry, atau bahkan penulis buku, pada dasarnya mereka tetap produktif dan bisa disebut wanita bekerja. Bagi kaum laki-laki yang menuntut istrinya untuk tidak bekerja di luar rumah dengan berbagai alasan, maka istri masih bisa menjadi produktif dengan melakukan aktivitas belajar dan bekerja dari rumah. Tentunya pilihan ini perlu dibicarakan dengan kepala dingin antara suami dan istri. Suami tetap bisa memberikan kesempatan kepada istri untuk belajar dan bekerja, sekaligus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Dan di luar sana, banyak sekali pasangan hidup yang telah memilih jalan ini dan membuktikan mereka mampu. Kalimat belajar sepanjang hayat atau never ending learning tentunya pantas digunakan oleh perempuan manapun yang senantiasa meng-up grade kualitas dirinya menjadi lebih baik. Hanya melalui belajar, wanita mampu menjadi insan yang lebih mandiri, tangguh, dan tidak mudah menjadi korban tipu daya laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

Ketiga, semasa hidupnya Kartini melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda, mereka selalu memberikan dukungan terhadap perjuangan Kartini. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk menjadi perempuan yang open minded dan mampu membangun relasi/jejaring dengan orang atau dunia luar. Pada masa Revolusi 4.0 di mana keterhubungan orang satu dengan lainnya sangat mudah dan segala informasi bisa dengan mudah kita telusuri serta dapatkan, maka membangun sebuah relasi/jejaring di manapun dan kapanpun, bukanlah hal yang mustahil. Relasi dan jejaring adalah sebuah bentuk kerjasama yang akan memudahkan kita dalam mencapai tujuan. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain dalam hidupnya dengan membangun hubungan yang isinya adalah kerjasama. Wanita perlu membangun sebuah relasi/jejaring untuk saling bertukar informasi, ide/gagasan, praktik baik, dan kerjasama. Semakin kita menyadari besarnya kebutuhan, maka keterhubungan kita dengan orang lain akan semakin meluas. Minimal adanya support system yang kompleks dari orang-orang yang menjalin jejaring dengan kita akan menguatkan kaki kita dalam melangkah.

Keempat, Kartini mengajarkan kepada kaum perempuan untuk tumbuh dan berkembang dengan karakter yang baik dan positif. Sosok Kartini digambarkan sebagai wanita keturunan bangsawan yang sangat menjaga kesantunannya, sehingga tampak elegan. Namun bukan berarti, kaum perempuan yang bukan ningrat tidak mampu membangun karakter itu. Karakter adalah hasil pembiasaan yang dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan. Semua insan mampu membangun karakter baik dalam dirinya jika dia mampu mengkondisikan diri dan lingkungannya dengan baik. Tetaplah menjadi perempuan yang memiliki cita-cita tinggi, berinteraksi dengan orang-orang baik yang memiliki persamaan visi, dan senantiasa memegang teguh ajaran agama, adalah upaya membentuk karakter baik pada diri sendiri. Tegas namun bukan keras, ramah namun bukan lemah, kuat namun bukan jahat,

Kelima, semenjak menikah Kartini mulai menanggalkan egonya. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa sejauh mana kita terbang maka rumah dan keluarga adalah tempat kembalinya. Keluarga seharusnya menjadi support system terbaik bagi seorang wanita dan sebaliknya wanita mampu menempatkan keluarga sebagai prioritas utama dalam hidupnya bahkan dalam keadaan tertentu wanita bisa menjadi perisai bagi keluarga. Tanpa support system dari keluarga, wanita mudah kehilangan keseimbangan hidupnya dan menjadi rapuh.

Sosok Kartini telah mengajarkan banyak hal baik dan positif kepada kaum perempuan Indonesia, harapannya pemikiran-pemikiran baik dan segala daya upaya yang telah dilakukan untuk memajukan perempuan Indonesia menjadi inspirasi bagi kita untuk melanjutkan perjuangannya. Peringatan Hari Kartini di setiap tanggal 21 April seharusnya bisa dimaknai lebih mendalam sebagai momentum yang tepat bagi kita untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri, sejauh mana kita telah menjiwai mimpi seorang Kartini, apa yang telah kita upayakan untuk mencerdaskan dan memberdayakan sesama perempuan, bagaimana mengisi peringatan hari Kartini dengan kegiatan yang lebih bermakna yang bisa mendorong kesadaran diri (self awareness) dan motivasi diri untuk menjadi perempuan yang cerdas, mandiri, dan tangguh MESKIPUN TANPA MEMAKAI BAJU KARTINI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

PELATIHAN TIM MITRA HUMAS

Pengumuman BARU

May 2022
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031