SEKILAS INFO
: - Monday, 16-05-2022
  • 1 tahun yang lalu / Kegiatan Ulangan Tengah Semester (UTS) akan segera dilaksanakan, Persiapkan diri, Belajar yang Rajin dan Jangan lupa penuhi kewajiban administrasi sekolah

ESENSI NILAI-NILAI KEBAJIKAN

DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN 

YANG BERPIHAK PADA MURID

 

Oleh Dyah Rakhmayanti

CGP Angkatan ke-4 Kabupaten Sidoarjo

Fasilitator: Catur Urip Rosidi

Pengajar Praktik : Ifta Zuroidah

 

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal adalah Pratap Triloka yaitu Ing Ngarsa Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri handayani yang artinya sebagai seorang  pendidik atau guru harus bisa menjadi teladan, membangun motivasi dan mendorong murid maupun rekan sejawat untuk bertumbuh bersama mencapai tujuan pendidikan. Seorang guru dengan nilai dan peran yang melekat pada dirinya harus memegang Pratap Triloka tersebut dalam menjalankan peranannya sebagai pemimpin pembelajaran.

Seorang guru yang meyakini nilai-nilai kebajikan dalam dirinya akan membentuk sebuah karakter positif dan menjadikan dirinya teladan bagi sekitarnya. Keberadaannya di tengah-tengah lingkungannya membuat dirinya memiliki kepedulian untuk menggerakkan dan mendorong murid dan rekan-rekan sejawatnya untuk bertumbuh bersama. Oleh karena itu Pratap Triloka tersebut sangat mempengaruhi mindset atau pola pikir seorang guru dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Pada prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha, dimana seorang guru yang sudah terinternalisasi nilai-nilai kebajikan dalam dirinya secara otomatis akan menggunakan nilai-nilai tersebut untuk menganalisis sebuah permasalahan yang dihadapinya, mengidentifikasi apa nilai-nilai yang bertentangan di dalamnya dan prinsip apa yang digunakan dalam mengambil sebuah keputusan. Nilai-nilai yang diyakini akan sangat mempengaruhi keputusan yang diambil. Misalnya, jika seorang guru meyakini pentingnya nilai keadilan maka tentunya dalam mengambil keputusan dilema etika akan mempertimbangkan nilai keadilan sehingga keputusan yang diambil benar-benar menunjukkan adanya keadilan bagi berbagai belah pihak yang terlibat dalam dilema etika. Maka bisa dikatakan bahwa sebuah keputusan itu mempresentasikan karakter-karakter dan nilai-nilai yang diyakini para pengambil keputusan.

Begitu pula prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha juga sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran. Guru yang selalu memotivasi lingkungannya akan selalu memprioritaskan kepentingan orang-orang di sekitarnya dalam hal ini adalah kepentingan murid. Jika ia dihadapkan pada dilema etika maka kepentingan murid akan menjadi dasar pengambilan keputusan, apakah keputusan tersebut akan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid.

Prinsip Tut Wuri Handayani memberikan warna bagaimana seorang pemimpin akan selalu mendorong orang-orang di sekelilingnya untuk berkolaborasi dalam mengambil keputusan, bukan dominasi dirinya sendiri sebagai pemimpin pembelajaran. Sebaliknya, dia sangat membatasi pendapatnya sendiri dan lebih banyak mengeksplorasi saran/masukan dari orang-orang yang terlibat dalam kolaborasi penyelesaian dilema etika.

Dalam proses pengambilan keputusan secara kolaborasi, seorang pemimpin pembelajaran lebih memposisikan dirinya sebagai seorang coach dalam proses coaching. Ia lebih banyak memberikan pertanyaan-pertanyaan yang efektif dan memberdayakan kepada pihak-pihak yang terlibat/coachee, mendengarkan dengan baik, memberikan umpan balik yang positif kepada pihak-pihak yang terlibat, dan penguatan terhadap keputusan yang diambil. Selain itu, dia akan menggunakan mekanisme yang tepat untuk mengambil keputusan yaitu melaksanakan sembilan langkah pengambilan keputusan dilema etika yakni: 1) mengidentifikasi nilai-nilai yang bertentangan, 2) melibatkan pihak-pihak yang berkaitan, 3) mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi, 4) menguji benar atau salah, 5) menguji paradigma benar lawan benar, 6) melakukan prinsip resolusi, 7), melakukan investigasi opsi trilema, 8) membuat keputusan, serta 9) melihat lagi keputusan dan merefleksikannya.  Oleh karena itu keputusan yang diambil adalah keputusan berbasis kolaborasi yang tidak akan ada keraguan atasnya dan memiliki akuntabilitas, dapat diterima oleh berbagai pihak dengan lapang dada, dijunjung tinggi,  serta dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Keputusan yang baik dan tepat tidak hanya ditentukan oleh mekanisme pengambilan keputusan yang tepat, namun juga ditentukan oleh aspek sosial emosional yang dimiliki para pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya para guru. Jika para guru memiliki kompetensi sosial dan emosional yang baik, meliputi kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial/empati, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan maka mereka akan bisa memerankan dirinya dalam proses pengambilan keputusan tersebut dengan baik pula, misalnya mampu menciptakan mindfullness dalam dirinya dengan bersikap fokus, tidak sibuk dengan gadgetnya saat di dalam forum, tidak memaksakan kehendak, mampu mengontrol dirinya dalam berpendapat, menghargai pendapat orang lain, memiliki analisis yang tajam, dan lain-lain. Proses pengambilan keputusan dalam situasi yang hangat dan penuh kesadaran akan dapat memutuskan keputusan yang tepat sasaran/efektif  dan berpihak pada murid.

Oleh karena itu, penting bagi seorang guru memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai kebajikan dan kompetensi sosial dan emosional karena keduanya merupakan filter atau pengontrol bagi seorang guru dalam menyikapi dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya khususnya masalah dilema etika dan bujukan moral. Hal pertama yang harus dilakukan guru dalam menghadapi permasalahan adalah menggunakan nilai-nilai kebajikan tersebut untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral atau dilema etika. Jika masalah tersebut bertentangan dengan hukum maka termasuk bujukan moral, hal ini harus dihindari karena bisa membahayakan diri sendiri. Jika masalah tersebut tidak bertentangan dengan hukum, namun ada nilai-nilai kebenaran yang bertentangan maka termasuk dilema etika. Penyelesaian dilema etika diawali dengan mengidentifikasi nilai-nilai kebenaran yang bertentangan, pada tahap inilah seorang guru harus mampu menelaah nilai-nilai kebenaran tersebut sesuai nilai-nilai kebajikan yang diyakininya agar ia mampu mengambil keputusan yang paling tepat, win win solution, dan dijiwai oleh nilai-nilai kebajikan yang diyakininya tersebut.

Keputusan yang diambil melalui mekanisme yang tepat seperti melalui 9 langkah pengambilan keputusan tersebut dan dijiwai oleh nilai-nilai kebajikan akan menghasilkan keputusan yang akuntabilitas atau dapat diterima oleh berbagai pihak. Meskipun pada dasarnya tidak akan ada keputusan yang bisa menyenangkan semua pihak namun minimal dapat diterima dengan jumlah suara terbanyak. Ketika keputusan bisa diterima oleh semua pihak maka mereka memiliki komitmen yang kuat untuk menjunjung tinggi keputusan sebagai keputusan bersama, tidak ada keraguan terhadapnya, dan berusaha melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Hal ini akan membawa dampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Lingkungan sekolah yang ideal adalah lingkungan di mana masing-masing personal di dalamnya telah mampu menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang telah disemaikan di dalamnya hingga menjadi sebuah kebiasaan positif dan pada akhirnya menjadi sebuah budaya positif. Ketika budaya positif mewarnai roda sebuah sekolah maka semua kegiatan sekolah dapat difilter atau dikontrol dengan nilai-nilai kebajikan tersebut, termasuk di dalamnya adalah proses pengambilan keputusan.

Namun, upaya menginternalisasi, menerapkan nilai-nilai kebajikan dan mengubah paradigma personal di sekolah bukanlah hal yang mudah, membutuhkan kesabaran, keuletan, konsistensi dan komitmen yang kuat para pemangku kepentingan di dalamnya. Diperlukan upaya yang terus-menerus atau berkesinambungan untuk memberikan pemahaman dan praktik baik kepada warga sekolah sebagai upaya internalisasi dan implementasi nilai-nilai kebajikan di dalam diri. Hal inilah yang menjadi salah satu tantangan dalam pengambilan keputusan di sekolah. Semakin bias pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan tersebut maka keputusan yang diambil semakin jauh dari keberpihakan kepada murid. Misalnya jika orang-orang yang terlibat di dalam pengambilan keputusan tidak meyakini nilai empati, justru yang dikedepankan adalah nilai egoisme, mementingkan kepentingannya sendiri, maka keputusan yang diambil tidak akan berpihak pada murid. Sebaliknya, jika orang-orang yang terlibat di dalam pengambilan keputusan meyakini dan menjunjung tinggi nilai empati/rasa peduli maka keputusan yang diambil akan tepat sasaran dan berpihak pada murid.

Oleh karena itu, internalisasi nilai-nilai kebajikan pada masing-masing personal di sekolah menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Sekolah sudah harus menggeser paradigma materialism oriented menjadi non materialism oriented, mengubah paradigma berbasis hal-hal fisik/material menjadi berbasis karakter atau nilai-nilai kebajikan. Awalnya pengambilan keputusan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik semata namun sekarang bertujuan untuk memenuhi keberpihakan kepada murid.

Begitu pula era sekarang, di mana paradigma pendidikan juga telah mengalami pergeseran menuju merdeka belajar, pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher oriented) menjadi pembelajaran yang berpusat pada murid (student oriented). Seluruh kegiatan atau program sekolah haruslah dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pembelajaran murid dan berpihak pada murid. Ketika setiap guru memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai kebajikan yang menjiwai visi sekolah antara lain nilai kesalihan, nilai toleransi, nilai kerjasama, nilai empati/kepedulian, nilai kebebasan yang bertanggung jawab, nilai kesantunan, nilai keadilan, nilai kebenaran, nilai kesetiaan, nilai prestasi, dan lain-lain serta mampu menerapkan nilai-nilai kebajikan tersebut dalam semua kegiatan pengambilan keputusan maka insyaallah keputusan yang diambil adalah keputusan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan dan keputusan yang berpihak pada murid. Keberpihakan pada murid adalah bagian dari pengajaran yang memerdekakan murid, pengajaran yang berusaha memenuhi kebutuhan belajar murid sesuai  dengan minat belajar, kesiapan belajar, dan profil belajar murid.

Peran seorang pemimpin pembelajaran sangat penting dalam pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Penjiwaan terhadap nilai-nilai kebajikan yang diyakini sekolah dan mekanisme pengambilan keputusan dilema etika adalah dua hal yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan di sekolah. Jika keputusan yang diambil adalah keputusan yang berpihak pada murid maka otomatis guru telah memberikan kesempatan kepada murid untuk menemukan dan mengembangkan potensi/kekuatan di dalam dirinya saat ini. Segala potensi yang berkembang baik pada diri murid akan membuka jalan bagi masa depannya, tidak hanya masa depan secara keduniaan melainkan menjadi manusia seutuhnya, manusia yang memiliki kebahagiaan setinggi-tingginya dan manusia yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

Selain itu, keputusan yang berpihak pada murid secara tidak langsung memberikan pembelajaran kepada murid untuk meneladani apa yang sudah dilakukan oleh guru terhadap dirinya. Karena sejatinya menurut pepatah Jawa, “ guru itu digugu dan ditiru “ segala perbuatannya. Ketika murid merasakan dampak baik dari keputusan guru maka ia akan menjadikannya referensi dan menirunya di kemudian hari. Praktik baik yang otentik seperti ini perlu dikembangkan terus-menerus di lingkungan sekolah agar memberikan dampak positif kepada murid baik saat ini maupun di masa depan.

Oleh karena itu setiap guru dan setiap sekolah perlu memahami filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara untuk menuntun murid menemukan potensi/kekuatannya melalui Pratap Triloka. Untuk menuntun murid, guru perlu menjalankan nilai dan perannya yaitu 1) memberikan pembelajaran yang berpihak pada murid melalui pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial dan emosional serta proses coaching dan 2) mendapatkan dukungan berupa visi sekolah dan kebijakan sekolah yang berpihak pada murid serta budaya positif. Tentunya, semua kebijakan sekolah yang berpihak pada murid tersebut, yang diputuskan oleh stakeholder sekolah, diambil melalui pengambilan keputusan yang tepat yang dijiwai oleh nilai-nilai kebajikan dan melalui mekanisme yang tepat pula.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

PELATIHAN TIM MITRA HUMAS

Pengumuman BARU

May 2022
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031